TRAFFIC

Rabu, 23 Desember 2015

KONTRA DENGAN ADANYA GLOBALISASI EKONOMI DI INDONESIA



Nama: Amalia hapsari prannanda putri
NIM: 151130120

KONTRA DENGAN ADANYA GLOBALISASI EKONOMI DI INDONESIA
Globalisasi ekonomi ditandai dengan semakin menipisnya batas-batas geografi dari kegiatan ekonomi atau pasar secara nasional atau regional, tetapi semakin mengglobal menjadi “satu” proses yang melibatkan banyak negara. Globalisasi ekonomi biasanya dikaitkan dengan proses internasionalisasi produksi, perdagangan dan pasar uang. Globalisasi ekonomi merupakan suatu proses yang berada diluar pengaruh atau jangkauan kontrol pemerintah, karena proses tersebut terutama digerakkan oleh kekuatan pasar global, bukan oleh kebijakan atau peraturan yang dikeluarkan oleh sebuah pemerintah secara individu.[1]
Disini saya kontra ataupun tidak setuju dengan adanya globalisasi ekonomi karena secara keseluruhan globalisasi ekonomi sedikit-sedikit menggerogoti keutuhan produk lokal di Indonesia.
Ada banyak argumen mengapa globalisasi ekonomi memiliki dampak negatif yang dapat menyebabkan suatu negara mengalami keruntuhan pada produk lokalnya secara perlahan-lahan. Sebenarnya globalisasi ekonomi ini ada sudah sejak lama dan dampak yang dirasakannya sudah mulai terasa saat ini. Hal ini dapat terlihat pada bidang sosial-ekonomi masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia terkenal dengan pribadinya yang konsumtif. Ketika penduduk kita membeli barang-barang asing, maka tingkat derajat seseorang tersebut dianggap naik karena telah membeli barang yang datang dari luar negeri yang notabene berharga mahal daripada barang-barang lokal. Padahal kualitas yang diberikan barang-barang asing sekarang ada yang dibawah barang-barang lokal.
Argumen lain yang saya paparkan dalam menentang adanya globalisasi ekonomi ini dapat menghambat pertumbuhan di sektor industri. Globalisasi ekonomi menyebabkan negara-negara berkembang tidak bisa lagi memakai tarif tinggi untuk memproteksi industri yang baru berkembang. Sehingga, perdagangan luar negeri yang cukup bebas menimbulkan hambatan bagi negara berkembang dalam memajukan sektor industri. Selain itu, semakin meningkatnya ketergantungan pada industri-industri yang dimiliki perusahaan multinasional. Dengan adanya hal semacam ini kita menjadi tahu bahwa Indonesia merupakan pasar yang empuk bagi negara asing. Dengan adanya perusahaan multinasonal membuat Indonesia ketergantungan dan tidak dapat maju. Misalnya saja dengan kehadiran produk-produk elektronik maupun gadget. Seperti contoh Apple yang dimiliki oleh Amerika dan Esia yang dimiliki oleh Indonesia. Masyarakat akan lebih memilih produk asing daripada lokal.
Argumen selanjutnya yaitu Sektor keuangan semakin tidak stabil. Arus investasi yang semakin besar menjadi salah satu efek dari globalisasi. Investasi dalam hal ini terutama meliputi partisipasi dana dari luar negeri ke pasar saham. Di saat pasar saham mengalami peningkatan, dana ini akan mengalir masuk, neraca pembayaran bertambah baik dan nilai uang akan bertambah baik. Dan sebaliknya, di saat harga-harga saham menurun, dana dalam negeri akan mengalir ke luar negeri, neraca pembayaran cenderung menjadi makin buruk serta nilai mata uang dalam negeri merosot. Ketidakstabilan di sektor keuangan ini dapat menimbulkan efek buruk kepada kestabilan kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Kemudian argumen mengenai Diperburuknya prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Apabila hal-hal yang dinyatakan di atas berlaku dalam suatu negara, maka dlam jangka pendek pertumbuhan ekonominya menjadi tidak stabil. Dalam jangka panjang pertumbuhan yang seperti ini akan mengurangi lajunya pertumbuhan ekonomi. Pendapatan nasional dan kesempatan kerja akan semakin lambat pertumbuhannya dan masalah pengangguran tidak dapat diatasi atau malah semakin memburuk. Dengan adanya pasar bebas yang menjadi slaah satu agenda dari globalisasi ekonomi ini dapat membahayakan bidang ekonomi suatu bangsa karena dengan melakukan hal ini maka sektor keuangan negara berkembang yang hanya menjadi konsumen produk asing akan terus-menerus mengandalkan tanpa memiliki inovasi karena produk asing memiliki ide yang lebih luas ketimbang ide yang diciptakan oleh negara berkembang. Hal ini akan menyebabkan benefit pendapatan yang besar bagi negara-negara maju daripada benefit pendapatan bagi negara berkembang khususnya Indonesia.


[1] http://www.kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-98-2498-06022008.pdf JUDUL: PENGUSAHA KADIN BREBES DI DALAM  ERA GLOBALISASI: TANTANGAN  DAN ANCAMAN Diakses pada tanggal 18, Desember 2015 Pukul: 00.01 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar