Nama: Amalia Hapsari Prannanda Putri
NIM: 151130120
Konflik internal di Suriah merupakan
konflik yang baru dalam dunia internasional. Sebenarnya konflik internal di
Suriah ini muncul karena adanya rezim Bashar Al-Assad. Suriah merupakan salah satu negarayang
terletak di Asia Barat yang dipimpin oleh Presiden Bashar al-Assad dan pada
saat ini sedang mengalami konflik bersenjata internal. Pada tanggal 26 Januari
2011 terjadi demonstrasi publik Suriah, dan berkembang menjadi pemberontakan
nasional. Para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri Presiden Bashar al-Assad,
penggulingan pemerintahannya, dan mengakhiri hampir lima dekade pemerintahan
Partai Ba'ath. Pemerintah Suriah mengerahkan Tentara Nasional Suriah untuk
memadamkan pemberontakan tersebut. [1]
Aksi-aksi demo yang dilakukan oleh
rakyat Suriah mulai bermunculan secara terusmenerus, mereka mulai menyuarakan
tuntutannya untuk menghentikan rezim Bashar Al-Assad. Tetapi ketika mereka
menyuarakan aspirasi pendapatnya dengan memberontak rezim tersebut tentara
Suriah mengamankan beberapa demonstran yang memunculkan ide-ide melawan rezim
tersebut. Bentrokan antara demonstran dan tentara Suriah pun semakin sering
terjadi. Akhirnya, aksi represif dari pemerintah Suriah dengan mendatangkan
tank dan melakukan penembakan dilakukan untuk meredakan konflik ini. Dahulunya
aksi represif tersebut merupakan cara yang efektif untuk membungkam rakyat
Suriah, namun dimasa sekarang ini hanya memicu terjadinya demonstrasi-demonstrasi
lain yang lebih dahsyat. Aksi protes ini menuntut penghentian Rezim Bashar
Al-Assad yang dianggap sebagai diktator, diterapkannnya sistem multipartai, dan
juga kebebasan yang lebih bagi rakyat, dan juga pemberhentian undang-undang
darurat yang telah diterapkan sejak 1963. Meski telah dilakukan upaya-upaya
reformasi oleh Presiden Bashar Al-Assad, namun hal itu dianggap tidak cukup dan
terlambat. Kini rakyat Suriah hanya menginginkan penggulingan rezim Bashar
Al-Assad dan pengangkatan pemerintah yang sama sekali baru berdasarkan pemilu
yang demokratis.
RUMUSAN MASALAH
Faktor apa yang menyebabkan konflik internal antara rakyat
dan pemerintah Bashar Al-Assad menjadi semakin rumit dan memanas?
KERANGKA TEORI
Disini penulis mengambil teori
Realisme sebagai pendekatan teori karena disini kaum realis yakin bahwa negara
memiliki kemampuan dalam mencapai national interest
dengan cara apapun serta security yang
dalam pencapaiannya tidak lain melewati jalan perang sehingga menimbulkan
security dilemma. Lalu, teori
realisme ini sangat memandang pesimis terhadap sifat dasar manusia yang selalu
cemas akan keselamatan dirinya dalam hubungan persaingannya dengan yang lain
dan sifat egoisnya akan kekuasaan. Selain itu, kaum realis sangat menekankan
pentingnya perimbangan kekuatan, karena paham ini menegakkan nilai-nilai dasar
perdamaian dan keamanan. Menurut Morgenthau ada enam prinsip realisme , (1)
realisme politik menganggap bahwa politik, seperti masyarakat umunya,
dikendalikan oleh hukum-hukum objektif yang berakar pada hakikat manusia, (2)
politik internasional merupakan wadah suatu negara dalam memenuhi interest-nya sebagai tujuan
mendapatkan power, (3) bentuk dan sifat
kekuasaan negara akan bermacam-macam ( kontekstual ) tetapi kepentingan
nasional akan tetap sama, (4) prinsip moral universal tidak menuntut
sikap negara, (5) tidak ada prinsip moral universal, (6) secara intelektual
politik itu otonom[2].
Jadi, disini menurut penulis kenapa penulis
menggunakan teori tersebut karena disini para penganut kaum realis percaya
bahwa perang menjadi jalan satu-satunya dalam menyelesaikan suatu konflik.
Karena adanya kepentingan dari masing-masing pihak dalam mencapai tujuannya
dalam hal ini faktor lain keterkaitan teori Realis dengan konflik ini adalah
karena kaitan antara pemberontak dari rezim Bashar Al-Assad dan pemerintah
Bashar Assad yang berkonflik semakin panas dengan melakukan gencatan
persenjataan untuk memenuhi tujuan masing-masing pihak.
PEMBAHASAN
Kebrutalan rezim Assad pun semakin
menjadi-jadi, tidak terkecuali anak-anak pun saat ini menjadi target kejahatan
tentara-tentara Assad. Sejak awal bulan 2011 lalu rezim Assad telah melancarkan
serangan dahsyatnya terhadap rakyat Suriah. Masyarakat digempur dengan
tank-tank, bom, mortir dan tembakan dari pesawat terbang. Ribuan penduduk yang
tidak berdosa, tanpa senjata, dibunuhi di rumah-rumah mereka.
Organisasi-organisasi kemanusiaan mengatakan, sekarang jumlah korban yang
dibunuh lebih dari 70.000 orang. Namun, diperkirakan jumlahnya lebih besar dari
itu. Menurut pemerintah Suriah bahwa aksi demonstrasi yang terjadi di Suriah
merupakan suatu aksi-aksi pengacau keamanan di Suriah yang didalangi oleh motif
tertentu. Namun hal tersebut tidak terbukti kebenarannya sampai sekarang ini
karena hal tersebut merupakan suatu opini publik yang dibuat oleh pemerintah
Suriah untuk mengalihkan isu yang sebenarnya dari konflik yang terjadi di
Suriah. Dengan berjalannya waktu, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh rakyat
Suriah akhirnya berkembang menjadi suatu pemberontakan nasional.
Aksi pemberontakan nasional tersebut
terjadi karena adanya rasa ketidakpuasan dengan sistem pemerintahan Presiden
Bashar al-Assad selama ini dan juga keinginan dari rakyat Suriah untuk
melakukan revolusi di Suriah. Aksi pemberontakan nasional tersebut akhirnya
berujung pada terjadinya konflik bersenjata internal di Suriah. Dengan adanya
bentrokan yang terjadi terus menerus antara para demonstran dengan pemerintah
Suriah tersebut membuat rakyat Suriah semakin memberontak dan melawan
pemerintah Suriah. Hal ini menyebabkan rakyat Suriah mulai mengangkat senjata
dan melakukan perlawanan terhadap pemerintah Suriah. Aksi perlawanan dari
Rakyat Suriah pun sangat beragam, mulai dari secara individu maupun kelompok.
Namun sering kali pertempuran dimenangkan oleh pasukan pemerintah Suriah. Hal
ini disebabkan karena perlawanan rakyat Suriah cenderung masih bersifat
individual dan tidak terorganisir dengan baik secara strategi dan operasi
militernya. Berdasarkan hal tersebut membuat rakyat Suriah akhirnya merasa
perlu untuk membentuk suatu kekuatan oposisi yang mampu menandingi kekuatan
pasukan tentara Suriah. Sekelompok desertir berseragam dari militer Suriah yang
membelot dan para kelompok-kelompok pemberontak kecil serta penduduk sipil yang
turut mengangkat senjata bergabung dalam suatu organisasi yang dibentuk bersama
oleh mereka dengan nama Tentara Pembebasan Suriah atau Free Syrian Army (FSA).
Free Syrian Army (FSA)adalah struktur
oposisi utama bersenjata yang beroperasi di Suriah yang telah aktif selama
perang saudara di Suriah yang terdiri dari para personel angkatan bersenjata
Suriah yang membelot dan relawan. Tentara Pembebasan Suriah (FSA)tidak memiliki
tujuan politik kecuali untuk melengserkan Bashar al-Assad sebagai Presiden
Suriah.
KESIMPULAN
Pada paper kali ini penulis mengambil
kesimpulan bahwa dengan adanya pemberontakan terhadap Bashar Al-Assad tentu
menambah daftar konflik internal pada negara Suriah. Rakyat yang merasa hak-nya
dirampas dan merasa dibodohi oleh rezim-rezim Assad tentu ingin menciptakan
rasa keadilan yang ada dalam negara mereka. Mereka menginginkan pemerintahan
Assad yang telah Assad emban selama 5 dekade ini lengser dengan melakukan
demonstrasi-demonstasi secara massal. Tetapi, adanya demonstrasi ini malah
membuat konflik semakin rumit, karena korban yang berjatuhan pun sudah mencapai
angka 70.000 lebih. Koraban dari kekejaman konflik ini tidak hanya rakyat
dewasa saja, tetapi anak-anak tidak pandang bulu juga menjadi sasaran korban
adanya konflik.
Konflik ini, lebih cenderung
dimenangkan oleh pemerintahan Assad karena ketika rakyat melakukan demonstrasi
mereka kekurangan senjata dan kurang terkoordinir. Meskipun banyaknya korban
telah terjadi dalam konflik ini. Dibentuknya FSA (Free Syrian Army) yang
terdiri dari para demonstran dan kelompok-kelompok penentang Assad juga menjadi
bukti keseriusan masyarakat Suriah untuk membantu menjalankan konflik dan
melancarkan aksi-aksinya yang ingin melengserkan pemerintahan Bashar Al-Assad.
DAFTAR PUSTAKA:
1. .
http://e-journal.uajy.ac.id/4524/2/1HK10107.pdf
Judul: BAB I PENDAHULUAN. Diakses pada tanggal 16, Desember 2015 pukul 19.37
WIB
2. http://devi-anggraini-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-74783-TEORI%20HUBUNGAN%20INTERNASIONAL-TEORI%20REALISME.html
Judul: TEORI REALISME Diakses pada tanggal 16, Desember 2015 pukul 20.05 WIB GLO
[1] http://e-journal.uajy.ac.id/4524/2/1HK10107.pdf
Judul: BAB I PENDAHULUAN. Diakses pada tanggal 16, Desember 2015 pukul 19.37
WIB
[2] http://devi-anggraini-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-74783-TEORI%20HUBUNGAN%20INTERNASIONAL-TEORI%20REALISME.html
Judul: TEORI REALISME Diakses pada tanggal 16, Desember 2015 pukul 20.05 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar