TRAFFIC

Rabu, 23 Desember 2015

HUBUNGAN PEMBERONTAKAN REZIM BASHAR AL-ASSAD TERHADAP KONFLIK INTERNAL SURIAH



Nama: Amalia Hapsari Prannanda Putri
NIM: 151130120

Konflik internal di Suriah merupakan konflik yang baru dalam dunia internasional. Sebenarnya konflik internal di Suriah ini muncul karena adanya rezim Bashar Al-Assad.  Suriah merupakan salah satu negarayang terletak di Asia Barat yang dipimpin oleh Presiden Bashar al-Assad dan pada saat ini sedang mengalami konflik bersenjata internal. Pada tanggal 26 Januari 2011 terjadi demonstrasi publik Suriah, dan berkembang menjadi pemberontakan nasional. Para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri Presiden Bashar al-Assad, penggulingan pemerintahannya, dan mengakhiri hampir lima dekade pemerintahan Partai Ba'ath. Pemerintah Suriah mengerahkan Tentara Nasional Suriah untuk memadamkan pemberontakan tersebut. [1]
Aksi-aksi demo yang dilakukan oleh rakyat Suriah mulai bermunculan secara terusmenerus, mereka mulai menyuarakan tuntutannya untuk menghentikan rezim Bashar Al-Assad. Tetapi ketika mereka menyuarakan aspirasi pendapatnya dengan memberontak rezim tersebut tentara Suriah mengamankan beberapa demonstran yang memunculkan ide-ide melawan rezim tersebut. Bentrokan antara demonstran dan tentara Suriah pun semakin sering terjadi. Akhirnya, aksi represif dari pemerintah Suriah dengan mendatangkan tank dan melakukan penembakan dilakukan untuk meredakan konflik ini. Dahulunya aksi represif tersebut merupakan cara yang efektif untuk membungkam rakyat Suriah, namun dimasa sekarang ini hanya memicu terjadinya demonstrasi-demonstrasi lain yang lebih dahsyat. Aksi protes ini menuntut penghentian Rezim Bashar Al-Assad yang dianggap sebagai diktator, diterapkannnya sistem multipartai, dan juga kebebasan yang lebih bagi rakyat, dan juga pemberhentian undang-undang darurat yang telah diterapkan sejak 1963. Meski telah dilakukan upaya-upaya reformasi oleh Presiden Bashar Al-Assad, namun hal itu dianggap tidak cukup dan terlambat. Kini rakyat Suriah hanya menginginkan penggulingan rezim Bashar Al-Assad dan pengangkatan pemerintah yang sama sekali baru berdasarkan pemilu yang demokratis.
RUMUSAN MASALAH
Faktor apa yang menyebabkan konflik internal antara rakyat dan pemerintah Bashar Al-Assad menjadi semakin rumit dan memanas?
KERANGKA TEORI
Disini penulis mengambil teori Realisme sebagai pendekatan teori karena disini kaum realis yakin bahwa negara memiliki kemampuan dalam mencapai national interest dengan cara apapun serta security yang dalam pencapaiannya tidak lain melewati jalan perang  sehingga menimbulkan security dilemma. Lalu, teori realisme ini sangat memandang pesimis terhadap sifat dasar manusia yang selalu cemas akan keselamatan dirinya dalam hubungan persaingannya dengan yang lain dan sifat egoisnya akan kekuasaan. Selain itu, kaum realis sangat menekankan pentingnya perimbangan kekuatan, karena paham ini menegakkan nilai-nilai dasar perdamaian dan keamanan. Menurut Morgenthau ada enam prinsip realisme , (1) realisme politik menganggap bahwa politik, seperti masyarakat umunya, dikendalikan oleh hukum-hukum objektif yang berakar pada hakikat manusia, (2) politik internasional merupakan wadah suatu negara dalam memenuhi interest-nya sebagai tujuan mendapatkan power, (3) bentuk dan sifat kekuasaan negara akan bermacam-macam ( kontekstual ) tetapi kepentingan nasional  akan tetap sama, (4) prinsip moral universal tidak menuntut sikap negara, (5) tidak ada prinsip moral universal, (6) secara intelektual politik itu otonom[2].
Jadi, disini menurut penulis kenapa penulis menggunakan teori tersebut karena disini para penganut kaum realis percaya bahwa perang menjadi jalan satu-satunya dalam menyelesaikan suatu konflik. Karena adanya kepentingan dari masing-masing pihak dalam mencapai tujuannya dalam hal ini faktor lain keterkaitan teori Realis dengan konflik ini adalah karena kaitan antara pemberontak dari rezim Bashar Al-Assad dan pemerintah Bashar Assad yang berkonflik semakin panas dengan melakukan gencatan persenjataan untuk memenuhi tujuan masing-masing pihak.

PEMBAHASAN
Kebrutalan rezim Assad pun semakin menjadi-jadi, tidak terkecuali anak-anak pun saat ini menjadi target kejahatan tentara-tentara Assad. Sejak awal bulan 2011 lalu rezim Assad telah melancarkan serangan dahsyatnya terhadap rakyat Suriah. Masyarakat digempur dengan tank-tank, bom, mortir dan tembakan dari pesawat terbang. Ribuan penduduk yang tidak berdosa, tanpa senjata, dibunuhi di rumah-rumah mereka. Organisasi-organisasi kemanusiaan mengatakan, sekarang jumlah korban yang dibunuh lebih dari 70.000 orang. Namun, diperkirakan jumlahnya lebih besar dari itu. Menurut pemerintah Suriah bahwa aksi demonstrasi yang terjadi di Suriah merupakan suatu aksi-aksi pengacau keamanan di Suriah yang didalangi oleh motif tertentu. Namun hal tersebut tidak terbukti kebenarannya sampai sekarang ini karena hal tersebut merupakan suatu opini publik yang dibuat oleh pemerintah Suriah untuk mengalihkan isu yang sebenarnya dari konflik yang terjadi di Suriah. Dengan berjalannya waktu, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh rakyat Suriah akhirnya berkembang menjadi suatu pemberontakan nasional.
Aksi pemberontakan nasional tersebut terjadi karena adanya rasa ketidakpuasan dengan sistem pemerintahan Presiden Bashar al-Assad selama ini dan juga keinginan dari rakyat Suriah untuk melakukan revolusi di Suriah. Aksi pemberontakan nasional tersebut akhirnya berujung pada terjadinya konflik bersenjata internal di Suriah. Dengan adanya bentrokan yang terjadi terus menerus antara para demonstran dengan pemerintah Suriah tersebut membuat rakyat Suriah semakin memberontak dan melawan pemerintah Suriah. Hal ini menyebabkan rakyat Suriah mulai mengangkat senjata dan melakukan perlawanan terhadap pemerintah Suriah. Aksi perlawanan dari Rakyat Suriah pun sangat beragam, mulai dari secara individu maupun kelompok. Namun sering kali pertempuran dimenangkan oleh pasukan pemerintah Suriah. Hal ini disebabkan karena perlawanan rakyat Suriah cenderung masih bersifat individual dan tidak terorganisir dengan baik secara strategi dan operasi militernya. Berdasarkan hal tersebut membuat rakyat Suriah akhirnya merasa perlu untuk membentuk suatu kekuatan oposisi yang mampu menandingi kekuatan pasukan tentara Suriah. Sekelompok desertir berseragam dari militer Suriah yang membelot dan para kelompok-kelompok pemberontak kecil serta penduduk sipil yang turut mengangkat senjata bergabung dalam suatu organisasi yang dibentuk bersama oleh mereka dengan nama Tentara Pembebasan Suriah atau Free Syrian Army (FSA).
Free Syrian Army (FSA)adalah struktur oposisi utama bersenjata yang beroperasi di Suriah yang telah aktif selama perang saudara di Suriah yang terdiri dari para personel angkatan bersenjata Suriah yang membelot dan relawan. Tentara Pembebasan Suriah (FSA)tidak memiliki tujuan politik kecuali untuk melengserkan Bashar al-Assad sebagai Presiden Suriah.











KESIMPULAN
Pada paper kali ini penulis mengambil kesimpulan bahwa dengan adanya pemberontakan terhadap Bashar Al-Assad tentu menambah daftar konflik internal pada negara Suriah. Rakyat yang merasa hak-nya dirampas dan merasa dibodohi oleh rezim-rezim Assad tentu ingin menciptakan rasa keadilan yang ada dalam negara mereka. Mereka menginginkan pemerintahan Assad yang telah Assad emban selama 5 dekade ini lengser dengan melakukan demonstrasi-demonstasi secara massal. Tetapi, adanya demonstrasi ini malah membuat konflik semakin rumit, karena korban yang berjatuhan pun sudah mencapai angka 70.000 lebih. Koraban dari kekejaman konflik ini tidak hanya rakyat dewasa saja, tetapi anak-anak tidak pandang bulu juga menjadi sasaran korban adanya konflik.
Konflik ini, lebih cenderung dimenangkan oleh pemerintahan Assad karena ketika rakyat melakukan demonstrasi mereka kekurangan senjata dan kurang terkoordinir. Meskipun banyaknya korban telah terjadi dalam konflik ini. Dibentuknya FSA (Free Syrian Army) yang terdiri dari para demonstran dan kelompok-kelompok penentang Assad juga menjadi bukti keseriusan masyarakat Suriah untuk membantu menjalankan konflik dan melancarkan aksi-aksinya yang ingin melengserkan pemerintahan Bashar Al-Assad.









DAFTAR PUSTAKA:
1.       . http://e-journal.uajy.ac.id/4524/2/1HK10107.pdf Judul: BAB I PENDAHULUAN. Diakses pada tanggal 16, Desember 2015 pukul 19.37 WIB
2.       http://devi-anggraini-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-74783-TEORI%20HUBUNGAN%20INTERNASIONAL-TEORI%20REALISME.html Judul: TEORI REALISME Diakses pada tanggal 16, Desember 2015 pukul 20.05 WIB  GLO





[1] http://e-journal.uajy.ac.id/4524/2/1HK10107.pdf Judul: BAB I PENDAHULUAN. Diakses pada tanggal 16, Desember 2015 pukul 19.37 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar