TRAFFIC

Rabu, 23 Desember 2015

JEPANG DALAM USAHANYA MENJADI ANGGOTA TETAP DEWAN KEAMANAN PBB




DISUSUN OLEH:
Thania Azra Alifia 151130011
Midya Rasha S. A. 151130116
Debby Luky Pradana 151130083
Inten Suhartien 15130098
Amalia Hapsari P. P. 151130120


PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Tepat setelah revisi Undang-Undang Peace Keeping Operation (PKO), secara resmi PM Miyazawa Kiichi untuk pertama kalinya mengungkapkan Jepang untuk menjadi anggota Tetap Dewan Keamanan PBB. Setelah itu, beberapa kali dan dalam berbagai keesempatan, pemerintah Jepang baik melalui PM maupun melalui Duta Besar Jepang di PBB mengungkapkan yang sama. Dalam memenuhi ambisinya untuk menjadi anggota Tetap Dewan Keamanan PBB, Jepang mengajukan beberapa argument sehingga merasa pantas menjadi anggota Dewan Keamanan PBB, diantaranya:
1.      Kerjasama Personil
Sejak tahun 1992, bersamaan dengan diberlakukannya Peace Cooperation Law, Jepang mengirim kontingen SDF yang berperan sebagai polisi sipil, pemantauan gencatan senjata, dan pemantauan Pemilu dalam 6 operasi Pasukan Pemelihara Perdamaian
2.      Kerjasama Keuangan
Dengan menyediakan dana 20,6% bagi budget PBB, Jepang merupakan pendukung finansial terbesar setelah AS sehingga melampaui kontribusi dari 4 anggota tetap Dewan Keamanan PBB
3.      Kontrol Persenjataan, Pelucutan Senjata dan Non poliferasi
Jepang berkomitmen mendorong pelucutan senjata dan non poliferasi internasional, dan dilain pihak tetap mempertahankan 3 prinsip non nuclear. Jepang secara aktif berkontribusi pada suksesnya Konferensi Review Non Proliferation Treaty (NPT), dan berinsiatif memfasilitasi agar dimasukkan  ke dalam Comprehensive Test Ban Treaty.
Dengan segala argumen yang diajukan Jepang sehingga merasa pantas untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Jepang kemudian mencanangkan berbagai upaya untuk mendukung argumen-argumennya tersebut.
B.     Rumusan Masalah
Bagaimanakah perkembangan Jepang dalam usahanya untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB?
PEMBAHASAN
Seperti apa dan melalui upaya apa Jepang memenangkan diplomasinya agar tercapai keinginan Jepang untuk menjadi anggota tetap DK PBB dapat dilihat melalui berbagai upaya yang dilakukan Jepang yaitu diantaranya melalui diplomasi ekonomi, bantuan (ODA) dan partisipasi militer (SDF) melalui PKO seperti berikut ini:
1.      Melalui Diplomasi Ekonomi
Sampai pada tahun 2006-2007 menurut United Nations Handbook 2007, Jepang tetap secara konsisten memberikan anggaran kepada PBB dengan menjadi kontributor keuangan terbesar kedua setelah Amerika Serikat, berdasarkan data yang diperoleh total anggaran sebanyak 22% dan Jepang berada di urutan kedua dengan total anggaran sebanyak 16,6%. Adapun bentuk perjalanan kontribusi ekonomi Jepang di lingkungan internasional dapat dilihat melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.      Jepang tergabung dalam IMF tahun 1952
2.      Jepang tergabung dalam International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), pada tahun 1952 sebagai negara poros yang kalah akibat Perang Dunia;
3.      Jepang tergabung dengan Bank Dunia pada tahun yang sama yaitu 1952
4.      Jepang tergabung dalam Asian Development Program pada tahun 1966
5.      Jepang secara resmi tergabung sebagai “rich man club” kedalam kelompok Organization for Economic Cooperation and Development dan Development Assistance Committee pada tahun 1964
6.      Jepang tergabung dalam (OECP) Overseas Economic Cooperation Fund pada tahun 1982-1992
7.      Pada masa periode yang sama Jepang tergabung dalam (IFC) International Finance Corporation, dan (MIGA) Multilateral Investment Guarantee Agency
8.      Jepang tergabung dalam (UNDP) United Nations Development Program pada tahun 1990
9.      Jepang menjadikan ODA Jepang sebagai pilar utama kebijakan luar negeri utama Jepang pada tahun 1970 (Dikutip dari Widarahesty, 2008: 80)

Jepang menempatkan diplomasi ekonominya dalam arti yang tertinggi, diplomasi Jepang untuk menemui kecenderungan utama yang terjadi di dalam situasi internasional sebagai upaya kolaborasi mengakrabkan Jepang dengan negara-negara bebas lainnya. Dengan keberhasilan ekonominya ini Jepang menjalankan diplomasi internasionalnya melalui kontribusi ekonomi yang salah satunya melalui upaya bantuan internasional, yang juga merupakan instrument ekonomi yang dikenal ampuh berperan menjadi taktik diplomasi yang sangat diperhitungkan Jepang.

2.      Melalui Diplomasi Bantuan Internasional ODA
Jepang memahami sekali pentingnya peranan organisasi internasional seperti PBB, untuk itu setelah Perang Dunia II Jepang merubah haluan kebijakan luar negerinya dengan cara melakukan diplomasi ekonomi. Salah satu instrumen dari ekonomi adalah melaksanakan pemberian bantuan keuangan kepada negara-negara berkembang dan kepada organisasi-organisasi internasional, yang antara lain berbentuk bantuan melalui ODA (Official Development Agency).
ODA mencerminkan beberapa hal yaitu:
1.      Pembangunan multilateral yang berhubungan dengan kebijakan organisasi internasional
2.      Menegaskan kebijakan politik luar negeri Jepang sebagai negara yang muncul menjadi kekuatan ekonomi pada tahun 1980-an.
3.      Upaya untuk membatasi actor non-government
4.      Dan untuk membentuk opini public
Banyaknya kontribusi ODA yang diberikan Jepang kepada banyak negara, telah memperkuat langkah dan keinginan Jepang untuk memperoleh dukungan dari banyak negara untuyk menjadi anggota tetap dewan keamanan PBB. Hal ini terlibat dalam ungkapan Kono Yohei wakil perdana menteri Jepang dan juga menteri luar negeri Jepang, yang menyatakan bahwa Jepang telah disiapkan dan telah disahkan dengan banyk negara, untuk memegang tanggung jawab sebagai anggota yang permanen di dewan keamanan karena tanggung jawabnya yang telah dibuktikan melalui kontribusi ODA.

Jepang juga ikut berperan dalam memberikan bantuan kepada organisasi-organisasi internasional yang berada di “paying” PBB, seperti UNICEF, WHO dan lain sebagainya. Dengan demikian dalam kontribusi ekonomi Jepang telah berhasil menjadikan kebijakan ekonomi sebagai perhatian yang utama sebgaai pilar diplomasinya di PBB. Jepang menegaskan bahwa kontribusi ekonomi seperti ODA juga banyak diberikan Jepang dalam upaya membantu negara-negara berkembang di berbagai kawasan dunia, untuk itu banyak negara yang mendukung keinginan Jepang menjadi anggota tetap dewan keamanan PBB terkait dengan banyaknya sumbangan yang telah diberikan Jepang kepada negara-negara di dunia.
3.      Melalui Kontribusi PKO (Peacekeeping Operation)
Selain melalui kekuatan ekonomi, Jepang juga mengandalkan kontribusi pasukan perdamaiannya yaitu SDF (Self Defense Force) sebagai bentuk upaya diplomasi Jepang di PBB untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Walaupun dalam hal ini Jepang mengalami banyak hambatan baik dari dalam negeri Jepang sendiri yang sebagian masyarakatnya menginginkan Jepang terlibat dalam kekuatan militer dan juga konstitusi 9 antara Jepang dan Amerika.
Dengan mengandalkan PKO yang tidak berjalan dengan menggunakan kekuatan militer Jepang merasa itu lebih dari cukup untuk mempertimbangkan peranannya dalam ikut serta memelihara perdamaian. Dan Jepang merasa hal itu juga sudah cukup untuk membuktikan Jepang untuk menghapus kesalahan-kesalahan semasa perang dahulu.
Peristiwa penting pada tahun 1992 yaitu, dimana dimulainya penyebaran PKO telah menjadi titik balik bagi aktifitas militer Jepang yang dinamakan Pasukan Beladiri Jepang (SDF). Peristiwa ini pada prinsipnya dibentuk oleh tuntutan internasional yang meminta Jepang untuk mengakhiri kegiatan SDF yang bersifat free riding selama masa Perang Dingin dan memulai komitmen penuhnya pada kewajiban global di era baru. Pada era 1990-an juga merupakan langkah awal bagi Jepang dalam menentukan politik luar negeri Jepang yang baru, diamana Jepang mulai mempertimbangkan peran dan kontribusi militernya di dunia internasional.

Namun, upaya reformasi terhadap keanggotaan tetap DK PBB belum mencapai perubahan yang signfikan sampai saat ini, keadaan dunia yang semakin berubah dan terus mengalami perkembangan belum juga menjadi alasan yang cukup kuat untuk menemukan titik temu dalam upaya perbaikan struktur keanggotaan tetap DK PBB.
Adapun kendala yang mesti dihadapi Jepang terkait keinginannya untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB yaitu:
1.      Untuk meraih kursi anggota tetap di dewan keamanan maka Jepang harus menunggu reformasi berupa perluasan anggota tetap Dewan Keamanan, padahal meski ada pengakuan bahwa baik dari segi wilayah maupun dari segi keterwakilan Dewan Keamanan sudah tidak representatif lagi dan perdebatan mengenai reformasi tersebut telah dilakukan Mahkamah Umum lebih dari satu dekade, namun selama ini perdebatan tersebut tidak pernah mencapai kesempatan
2.      Dari anggota tetap Dewan Keamanan sendiri ada kecenderungan untuk tetap mempertahankan monopoli tersebut. Hal ini antara lain tampak dari tentangan Cina terhdap pencalonan Jepang, meskipun cina berargumen bahwa jika memang harus dilakukan perluasan, Cina lebih mendukung keterwakilan dari benua Afrika yang saat ini belum terwakilin
3.      Masih adanya pandangan sebagian besar anggota PBB bahwa perluasan anggota tetap Dewan Keamanan PBB justru akan membuat pengaruhnya semakin berkurang dan semakin tidak efektif. Karena kemungkinan penggunaan veto juga semakin besar sehingga bisa diprediksi pengambilan keputusan akan semakin alot.
4.      Meskipun kontribusi Jepang terhadap PBB besar dan hal ini juga banyak diakui negara lain namun Korea Utara menganggap bahwa hal itu tidak cukup, bahkan pernyataan Korea Utara cenderung keras menentang pencalonan Jepang sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Jepang nampaknya harus menghadapi kenyataan bahwa ambisinya untuk menjadi negara normal akan terus berhadap dengan beban sejarah masa lalunya. Sentimen anti Jepang masih terasa kental di Korea (Utara dan Selatan), negara-negara ASEAN lainnya, apalagi di Cina.



.
PENUTUPAN
Kesimpulan
Upaya-upaya yang dilakukan Jepang untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB dilakukan Jepang melalui diplomasi ekonomi termasuk melalui salah satu dari instrument ekonomi yaitu program bantuan luar negeri ODA, dan juga melalui pasukan perdamaian SDF di PKO. Upaya Jepang tersebut dapat diukur melalui pencapaian kontribusi yang maksimal yang telah diberikan Jepang untuk mendukung setiap gerakan yang diprakarsai oleh PBB dengan banyaknya kontribusi nyata yang telah diberikan Jepang kepada PBB tersebut, maka Jepang merasa memiliki keistimewaan tersendiri dan merasa layak untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Namun segala usaha dan upaya Jepang akan menjadi sia-sia jika Jepang tidak menyelesaikan hambatan-hambatan yang dihadapinya terlebih dahulu dalam mencapai kursi dikeanggotaan tetap Dewan Keamanan PBB.  Selain itu masalah lainnya adalah masih banyaknya pasal-pasal yang tertera di PBB yang merupakan pasal-pasal yang lahir dari masa perang Dunia II, yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan dunia saat ini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar